Catatan Senin: Oh Boy!

Noted to myself:

Collagues. Some can be best friends. Some can be friends. Some just acquaintances. And the rest you dont give a f*ck about it. And tonite I learned something. I know, most of the time I can always please people with their longing. But tonite I can’t please all of the people with all of the time anymore. Too much. Too tired. With all those many demands.  

This was posted 6 days ago. It has 0 notes.

Catatan Minggu: Dia

Ia datang lebih dahulu, ketika sudut mata gue menatap wajahnya dari balik bilik jendela. Saat itu ia tengah berjalan menuju meja dengan langkah santai.

Ada jeda yang enggak bisa gue hindari di depan pintu yang membatasi ruangan tempat gue berdiri, dan dirinya di ruang lain. Jeda pendek yang terasa amat lama di dalam kepala dan hati. Sekadar untuk memastikan apakah kali ini gue benar-benar siap untuk menatapnya langsung.

Jeda ini jauh terasa seperti gemuruh. Kacau. Nyaris melumpuhkan syaraf motorik.

Namun syaraf motorik memperpendek hitungan jeda. Memotong ruang yang ada. Mempertemukan kembali dia dan gue. Masih dalam suasana gemuruh. Di kepala dan hati.

Senyum. Ya, ada banyak senyuman simpul yang semakin membuat hati ini luruh. Mencair dan meredakan gemuruh di kepala dan hati.

Hening. Persediaan kata yang menipis.

Cuaca Jakarta siang itu mendung. Berangin sepoi-sepoi.

Ia kerap duduk dengan pose menyamping. Cenderung mengarah ke kiri. Menunjukkan profil wajah kanannya.

Ia berbicara dengan tatapan jauh. Mungkin ketegangan ini sama-sama kami rasakan.

Ia duduk menghabiskan berbatang-batang rokok. Hisapan dalam dan cepat. Menghembuskannya ke sembarang arah.

Gue banyak mengambil inisiatif untuk berbicara. Membuka jeda dan mengajaknya beradu argumentasi.

Ketegangan kami mulai mencair. Ia masih menghisap rokoknya dalam-dalam.

Kami berpindah tempat. Ia duduk di belakang kendali kemudi supir taksi. Mengarahkan pandangan banyak keluar jendela mobil. Kami berbincang banyak sepanjang jalan. Tentang restoran, perjalanan, dan ia sempat berdendang, “You make my world so colorful…”

Jakarta nampak tenang sore itu.

Duduk di bawah payung, ditemani bergelas-gelas bir dan sebuah green tea latte. Kamipun kembali bercakap-cakap.

Ia kembali mengeluarkan rokoknya dari dalam tas. Meminjam korek api dari pelayan, dan gue mengingatkan si pelayan untuk membawa sebuah asbak.

Ia kerap pergi ke toilet. Cukup sibuk dengan gadgetnya. Begitu juga gue yang masih disibukkan urusan pekerjaan via Blackberry.

Ada banyak waktu yang gue gunakan untuk menatap wajahnya. Masih dalam sudut profil kanan. Dan ketika tatapan kami saling bertemu, ah senyum itu, bikin hati ini lumer!

Jumat sore yang langka. Jakarta terasa tenang, mendung, angin sepoi-sepoi dan ia yang masih sulit gue deskripsikan dengan baik di sini.

Jakarta, 6 Januari 2012  

  

This was posted 1 week ago. It has 0 notes.

Thought

I wonder if you are as nervous as I am right now. Okay, this is not good. Not good at all. Indeed.

This was posted 3 weeks ago. It has 0 notes.

Birthday Note

Running out of time to write this thing. I only have 3 more minutes because today is my birthday. Not much that I want to say. We’ll see what tomorrow brings and hope some dreams come true. best of luck for myself :)

This was posted 3 weeks ago. It has 0 notes.

Catatan Jumat: Rencana

Bicara soal rencana, banyak orang kemudian menyederhanakannya dalam resolusi. Biasanya resolusi diletakkan di akhir dan/atau awal tahun. Tujuannya adalah untuk memudahkan menjalani hidup. Tapi, bukankah hidup akan tetap berjalan selama 7 x 24 jam? Tujuh hari dalam sepekan? Dan tanpa harus direncanakan?

Hahaha, naifnya begitu. Jalani saja apa yang ada. Toh hidup tetap akan berjalan sebagai mana adanya. Mungkin iya. Mungkin juga enggak. Dan gue ada di antaranya. Membicarakan rencana bukanlah sesuatu hal yang mudah sekaligus bukan juga hal yang sulit bagi gue. Misalnya, setelah bangun tidur tentu dong kita punya agenda-agenda personal yang harus kita lakukan. Nah, mungkin itu ada kaitannya dengan konsep bagaimana kita membangun rutinitas. Ya, rutinitas adalah hal yang berbeda dengan rencana.

Ada pengulangan di tengah rutinitas. Makanya kita mengulangnya sebagai bagian dari kebiasaan maupun aktivitas. Bagaimana dengan rencana? Di mana ia berada dan ditempatkan?

Gue percaya rencana bisa diselipkan di antara rutinitas yang mekanik. Mengutip catatan Izzah, rutinitas mekanik merupakan sistem besar, kuat dan tidak bisa dipatahkan. Di mana sistem ini terbangun dan terpola di dalam masing-masing kehidupan manusia. Entah itu disadari atau enggak. Kekakuan dalam rutinitas mekanik membuatnya menjadi sebuah ‘organisasi kehidupan,’ bisa digunakan sebagai medium yang mampu mengubah status sosial (ke arah yang lebih baik) atau sebaliknya: mampu mematikan kehidupan sosial kita. 

Manusia-manusia yang sadar dengan ‘beban’ rutinitas mekaniknya tentu juga enggak bodoh. Mereka juga enggak selamanya mau menjerembabkan diri dalam lubang keteknisan tersebut. Dibutuhkan upaya dan strategi untuk mengubah kehidupan untuk lebih seru lagi. Nah, di sini pentingnya untuk menghadirkan rencana dan harapan.

Mau rencana besar atau kecil tetap dibutuhkan sebuah politik pengharapan. Sebuah harapan justru harus lebih besar dari rencana itu sendiri. Tujuannya adalah untuk menjaga keseriusan kita dalam mewujudkan rencana. Lebih bagus kalau diikuti dengan komitmen. Kemungkinan untuk mewujudkannya akan jauh lebih besar. 

Tapi, belajar dari pengalaman, hal-hal yang membawa kita lebih membumi, lebih realistis, kerapkali menyadarkan kita bahwa memiliki sebuah rencana bisa membuat kita frustrasi. Ada ambisi dan obsesi di sana. Semuanya menjadi terprogram, fokus demi mewujudkan rencana. Dan kemungkinan juga kita bisa kehilangan sisi natural dari kehidupan itu sendiri. Membingungkan ya? Iya hahaha.

Gue juga terkadang terjebak dalam rencana-rencana dan kebingungan personal. Mungkin kebanyakan energi yang tidak bisa disalurkan dengan baik. Ingin ini dan itu. Berharap begini dan begitu. sampai akhirnya gue sempat enggak ingin punya keinginan apa-apa. Hanya menjalani saja hari ke hari. Membuatnya tetap seperti potongan 50 frame per detik. Ya, itu rata-rata kemampuan mata manusia dalam melihat obyek visualnya sehari-hari. Kembali lagi, hidup tetap berjalan seperti biasa.

Tapi rugi juga untuk meninggalkan hal-hal yang kita pandang seru dalam hidup. Membuat hati deg-degan. Harap-harap cemas. Kembali, di sini rencana gue munculkan. Kali ini jumlahnya gue batasi, agar gue masih bisa menikmati proses 50 frame per detik kehidupan. Mencoba santai baik dalam suasana ketegangan dan kesemrawutan, karena pada akhirnya gue percaya enggak ada seorangpun yang akan melewati semua ini hidup-hidup, hahaha.

This was posted 1 month ago. It has 0 notes.

Catatan Selasa: Cuti, Tapi Bingung

Tadi udah ngetik panjang lebar di sini. Ada kali 5 paragraf dan mendadak buyar gara-gara listrik jeglek! Hidup semakin membingungkan ketika instrumen penunjang malah enggak bisa menunjang maksimal hidup kita. Seperti listrik misalnya.

Oke, menyingkir soal listrik jeglek dan segala keluhan gue. Ada hal yang ingin gue ceritakan di sini. Maklum, tadi sudah nulis panjang. Kemudian hilang dan enggak mau kehilangan cerita yang berputar-putar dalam kepala gue ini.

Ini tentang liburan. Atau bahasa kerennya cuti merujuk perbendaharaan kata orang-orang kantoran di manapun berada. Gue sama sekali enggak paham sama mau gue sendiri apa. Mungkin kebanyakan urus urusan orang lain, menjunjung tinggi nilai dan semangat kolektivitas sampai lupa rasanya jadi individualis untuk beberapa hal. Gue bingung mau cuti ke mana! Hahaha. Hidup kian absurd.

Ngomongin cuti, gue udah mengenal istilah ini sejak tahun 2008. Ketika gue pertama kali masuk dunia kerja profesional dan enggak mengenal model kerja freelance lagi. Tahun 2008 enggak ngambil cuti, karena gue baru kerja 6 bulan. Masuk tahun 2009, secara sadar dan haqul yakin gue menolak cuti, dengan alasan gue ingin ‘menghukum diri gue sendiri,’ untuk bekerja lebih giat dan keras, akibat ingin melupakan perasaan gundah gulana sepanjang 3 tahun terakhir. Well, I really worked hard. Though I still remember what things made me up like that. Unexplainable situation up until now.

Ide gila ditahun 2010. Gue pergi ke India Selatan selama 10 hari! Ya, ya, ya gue tahu, gue pernah janji di sini buat nulis perjalanan ke India. Tapi belum ketulis juga. Janji, sampai di malam yang panjang, untuk duduk dan menulis, termasuk mengelaborasi plot dan karakter cerita, gue akan menuliskannya di sini. Momen perjalanan itu menjadi momen yang menyenangkan buat gue. Tapi balik lagi, gue kebingungan untuk membuat rencana liburan gue sendiri.

Awalnya gue berencana untuk pergi ke Hong Kong. Prediksi 4 hari perjalanan. Termasuk berangkat dan pulang. Di sana ada beberapa teman yang mau gue temui. Sekadar melepas kangen dan ngobrol-ngobrol santai aja. Kemudian semuanya hancur berantakan ketika kantor sepertinya enggak memberikan gue izin untuk keluar dari Jakarta. Apalagi dari Indonesia! Walhasil gue bekerja seperti kuda. Berangkat pagi buta. Pulang ngantor larut malem. Banyak menulis. Banyak mengedit. Termasuk naskah-naskah yang enggak semestinya gue edit, jadi dilimpahin ke gue. Melakukan pendalaman riset, mulai dari yang remeh temeh kecil-kecilan (tapi mungkin bermanfaat di masa depan) sampai riset maraton serius yang bikin degdegan.

Semuanya gue lakukan dengan kesadaran utuh sebagai pekerja ibukota. Atau mungkin karena tidak ada opsi lain ya? Hahaha, enggak tahu. Kadang Hari Sabtu dan Minggu juga dilibas buat lembur di kantor. Gila kerja. Kerja gila.

Sampai tiba di sebuah masa di mana tubuh, pikiran dan semua energi positif yang bisa mempertahankan kegilaan gue dalam menjalankan aktivitas dan rutinitas terasa limbung. Enggak seimbang. Gue butuh hal yang menyegarkan. Percakapan jenial. Pemandangan baru. Memperbaharui stimulus intuisi dan kenaifan. Jeda, di mana kah kau berada?

Tapi akhirnya gue memutuskan untuk memantapkan niat mengajukan cuti. Setelah Hong Kong gagal, mungkin Penang bisa jadi pelarian. Tapi rupanya gagal (juga). Gue masih terjebak dengan ‘harapan-harapan orang’ agar gue bekerja lebih giat lagi. Bahkan hari terakhir ngantor, gue masih sibuk nranslate, memperbaiki draf tulisan dan ngecek naskah-naskah tulisan lainnya. Kayak enggak niat mau liburan, hahaha kasihan (lho?).

Perjalanan ke Jogja 2 hari 1 malem kemarin bisa dibilang lumayan. Nyetir sambil lihat sawah dan pemandangan yang hijau-hijau bisa membuat pikiran enteng. Meski ujungnya ditanya sama Pak Bos gara-gara gue BBM ngucapin Selamat Natal sama dia, “Gimana liburan? Asik gak?” Hahaha, He really knew I was working like a horse at the time. Thank you Pak Bos for asking those question. Pretty fun, though I missed my desk hahaha.

Baiklah, kebingungan ini mungkin dibikin santai aja. Segala pengharapan buat liburan mungkin jangan dipatok tinggi. Jalani aja apa yang ada. Duduk-duduk sambil makan pisang goreng di rumah, nonton National Geographic sambil ngetawain gosip-gosip selebritas di teve mungkin menjadi pilihan terbaik di antara banyak pilihan buruk lainnya. Seenggaknya gue punya hari libur untuk bisa dipamerin sama yang lain, kalau gue juga liburan sama kayak mereka (meski liburan begini-begini aja).

Tahun depan mesti lebih baik lagi. Baik niat cutinya, maupun baik tujuan perjalanan cutinya, hahaha.

Oke, waktunya kembali ke notes untuk menyusun ide-ide brilian.

This was posted 1 month ago. Notes.

Catatan Minggu: Catatan Ayaka

Nah, Baru Jumat kemaren gue nulis soal buku catatan dan secara enggak sengaja gue ketemu sama orang yang suka mendokumentasikan memorinya dengan mencatat. Namanya Ayaka. Gadis Jepang yang seusia dengan gue. Belum lama gue kenal sama dia. Baru kemarin. Tapi ada beberapa hal yang bisa bikin kami berdua akrab.

Kebetulan gue jemput dia di Senayan, karena Ayaka teman saudara gue. Kami jalan ke Petak Sembilan. Makan makanan China, lihat-lihat kelenteng. Intinya hanya putar-putar Jakarta saja. Meski Bahasa Inggris Ayaka patah-patah, apalagi Bahasa Indonesianya yang harus didengarkan seksama, tapi dia teman baru yang menyenangkan.

Semua kendala bisa dikendalikan dengan bahasa tubuh. Bahkan waktu gue putar-putar Senayan cari posisinya, dia bisa menunjukkan lokasi dengan cukup cepat, karena dia menyerahkan ponselnya ke satpam keamanan, hahaha! Cerdas!

Kekurangan bisa diminimalisir jika kita cukup cekatan dengan situasi yang ada. Soal catatan, gue baru tahu waktu kami jalan ke Ragusa. Ia mengeluarkan sebuah notes berwarna biru tua dari dalam tas. Ayaka mencatat nama tempat dan nama jalan Ragusa. Kemudian, di mobil, ia kembali mengeluarkan notesnya untuk menunjukkan beberapa hal.

Gue sempat melihat satu halaman notesnya. Campuran catatan berbahasa Jepang, Indonesia dan Inggris. Enggak terlalu jelas karena gue enggak hidupin lampu mobil. Akhirnya ketemu satu orang lagi yang juga senang mencatat untuk mendokumentasikan pengalaman hidupnya! Kebetulan yang menyenangkan! :)

This was posted 2 months ago. It has 0 notes.

Catatan Jumat: Dokumentasi Urban dan Catatannya

Modernisasi kadang dimaknai oleh sebagian orang dengan penandaan seberapa banyak gadget yang kita miliki. Seberapa aktual teknologi yang kita miliki. Seberapa penting benda-benda penunjang itu bisa membawa kita dalam struktur kelas social tertentu.

Model-model kepemilikan semacam itu amat melelahkan. Enggak tahu kenapa tiba-tiba gue pengen nulis begini, disaat gue menulis di notes yang selalu gue bawa selama setahun belakangan ini.

Lalu apa hubungannya antara notes, gadget dan teknologi? Tentu saja ada hubungannya buet gue. Sebagai anak muda (haha!) yang peka dengan teknologi, gue juga cukup banyak terbantu dengan adanya benda-benda penunjang tersebut. Sebut saja, laptop, blackberry, mp3 player, flash disk, hard disk external, kamera DSLR adalah benda-benda elektronik lainnya yang nyaris gue gunakan sehari-hari.

Semuanya adalah benda-benda yang mampu mendokumentasikan semua catatan gue. Mulai dari kerjaan, sampai urusan yang enggak penting-penting amat. Sebut saja benda-benda ini adalah alat Bantu dokumentasi kaum urban. Nyaris semua orang menggunakannya. Di mana saja. Kapan saja.

Tapi, buat gue sendiri, sulit kiranya untuk lepas dari buku catatan (termasuk notes) dan pulpen (atau pensil). Dua benda itu selalu gue bawa ke mana saja, untuk mencatat proses, pikiran, atau hal-hal penting lainnya.

Gue punya beberapa buku catatan. Misalnya untuk mencatat urusan kerja, jadwal kegiatan, pikiran (termasuk pikiran sampah, haha), catatan vocabularies untuk IELTS, sampai coret-coretan alamat orang. Biasanya gue bawa di dalam tas. Gue lebih senang mencatat dengan tangan untuk semua proses pengalaman yang gue alami. Selain ngeblog di sini, hehe.

Sampai barusan tiba di halaman terakhir. Notes biru kecil, yang bentuknya seperti injil, selalu gue gunakan untuk mencatat pekerjaan. Mulai dari deadline, bahan bacaan, alamat email kolega, bahan-bahan meeting dan banyak catatan pekerjaan lainnya.

Gue membolak-balik halamannya. Variasi catatannya beragam. Gue juga menggunakan variasi pulpen. Mulai dari pulpen yang kelasnya Kinokuniya sampai pulpen supermarket. Beberapa catatan yang menggunakan pensil juga ada.

Sederhananya, yang ingin gua katakan adalah, ketika kita rutin mencatat dalam sebuah buku dan tiba di halaman terakhir dari buku catatan kita, gue akhirnya sadar, ada banyak hal yang sudah gue lakukan. Entah selesai atau enggak.

Mencatat adalah upaya gue untuk merekam. Mendokumentasikan memori dalam tulisan non-elektronik. Membiasakan tangan untuk bergerak, menulis dan bukan memanjakan jari jemari hanya dengan mengetik saja.

Mencatat model semacam ini masih amat menyenangkan. Meski gue tahu, tulisan gue enggak bagus-bagus amat. Tapi, secara historis gue tengah melatih diri sendiri untuk tetap tekun melakukan aktivitas semacam ini. Menjadi modern dengan segala kepemilikan benda-benda teknologi juga memberikan kesenangan tersendiri. Namun mencatat seperti apa yang masih gue lakukan, akan tetap gue pertahankan.

Sampai tiba waktunya gue harus mengganti notes-notes lama dengan yang baru.  

This was posted 2 months ago. It has 2 notes.

Catatan Minggu: Hoi!

Hidup semacam sibuk sekali sejak posting terakhir yang gue lakukan di sini. Gue baik. Semua baik. Jikapun kadang dunia rasanya sesekali mau kiamat dan langit mau runtuh, tapi gue ingat satu kalimat penting ini, “Do not sit on your butt, but stand on your feet.”

Kita harus selalu siap dan terus berjalan. Walau apapun yang terjadi. Capek boleh tapi jangan patah semangat. Kadang menjalani rutinitas yang namanya hidup bisa menjemukan sekali. tapi beginilah hidup. Harus dijalani dengan segala kontradiksi dan konfliknya.

Oh iya, besok pagi gue berangkat ke Jogja. Semacam bekerja, belajar dan mengurus masa depan, hahaha. Lumayan senang, karena kali ini adalah perjalanan individual, enggak bareng sama orang rumah. Mau ke kampus, ketemu dengan beberapa teman baik dan melakukan beberapa aktivitas selama sepekan di sana. Semoga lancar!

This was posted 3 months ago. It has 0 notes.

Catatan Minggu: Ceramah Kebencian

Gue bukan seorang agamis melankolis yang taat. Jauh dari itu bahkan. Banyak kekurangannya. Tapi ada keinginan yang kuat untuk mampir dan melakukan ibadah di dalam masjid belakangan ini. Setidaknya, masjid masih memiliki sebuah ruang yang lapang di hati gue. Selain taman kota dan kamar mandi, hehe.

Mendengarkan para penceramah menguntai kalimat silih berganti sebelum ayat-ayat dan surat-surat suci dibacakan dalam rakaat ke rakaat lainnya, membawa pengalaman yang berbeda. Tentu saja berbeda jika kita mendengarkan diskusi-diskusi panas seputar politik keindonesiaan.

Gue selalu memposisikan sebagai jamaah yang naif. Kosong. Tidak tahu apa-apa. Dengan demikian akan mempermudah gue untuk menangkap esensi ceramah yang disampaikan ustadz-ustadz kawakan tersebut. Kadang iseng juga ingin melempar celetuk dan menimpali isi ceramahnya. Tapi berbaur dan menjadi orang kebanyakan jauh lebih menyenangkan ketimbang menjadi sosok yang ‘berbeda.’

Beberapa ceramah yang gue dengarkan mungkin tidak jauh berbeda dengan ceramah-ceramah saat gue masih duduk di bangku sekolah dulu. Seputar penyakit hati, ketakwaan dan idealitas Islam sebagai agama pamungkas umat manusia.

Satu sisi ingin menjelaskan sisi universalitas Islam. Lengkap dengan gramatikal positifnya. Di lain sisi, arogansi untuk mendudukkan Islam sebagai agama yang ‘sempurna’ diam-diam ingin diselipkan mereka (baca: para ustadz). Pun lengkap dengan gramatikal negatifnya. Biasanya kita menyebut dengan nama: pidato kebencian (hate speech).

Pengalaman buruk pernah gue alami saat tidak sengaja mendengarkan ceramah bernada hate speech di komplek rumah sendiri. Ternyata tidak butuh jauh-jauh mendengarkan ceramah-ceramah bernada sumbang yang biasanya selalu dimonopoli oleh kelompok-kelompok ormas Islam garis keras seperti FPI sampai ke Petamburan atau ke Silang Monas. Di wilayah gue sendiri ada!

Si ustadz mengaku bahwa dirinya baru pertama kali mengisi ceramah menjelang Sholat Tarawih di wilayah komplek gue. Sehari-hari ia biasanya menjadi imam masjid di komplek Mako Brimob.  Selain setelan pengeras suara yang berlebihan, gue tidak punya pretensi apa-apa dengan gaya berceramahnya.

Sejak awal si ustadz nampak tidak siap dengan bahan ceramah yang ingin dia sampaikan. Ini terlihat dari struktur kalimat yang ia sampaikan. Awalnya ia ingin konsisten dengan tema keilahian menjelang 10 terakhir masa puasa. Tapi ia berpindah ceramah untuk memperkenalkan dirinya lebih jauh.

Sampai pada poin yang sangat gue sesalkan. Ia mulai mendiskreditkan nama-nama lembaga pendidikan Islam dan individu penyebar syiar Islam. Termasuk umpatan-umpatan kasar yang ia lontarkan pada konsep ketuhanan agama lain. Jadi apa si ustadz ini layak untuk disebut sebagai bagian dari orang-orang yang menjalankan konsep syiar Islam, jika ia bernafsu untuk menjatuhkan konsep ketuhanan agama Kristen dan Hindu. Jika ia tidak pernah memutakhirkan wacana keislamannya dengan kondisi sosial, politik dan budaya dunia. Jika ia selalu menggunakan dalil-dalil keras untuk menunjukkan arogansi Islam di atas segalanya.

Gue sadar, dalam setiap ceramah tidak terbuka ruang interupsi. Hal yang bisa gue lakukan adalah menjinjing sajadah dan kain sarung lebih tinggi, mencari sandal jepit dan angkat kaki dari masjid itu. Gue enggak tahu apakah jamaah lainnya merasakan apa yang gue rasakan; absurditas dengan makna ketuhanan yang mulai bergeser dari yang gue yakini. Menuju komoditi hingga corong-corong palsu penyebar syiar kebencian antar umat manusia.

This was posted 5 months ago. It has 0 notes.